TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL

A.    Pendahuluan

Pengajaran Islam kepada semua manusia merupakan salah satu kewajiban utama dalam Islam. Ajaran Islam yang diterima Nabi dan Rasul yang pertama kali bisa dikenal oleh generasi berikutnya bahkan sampai generasi sekarang disebabkan adanya kegiatan pengajaran tersebut. Tanpa transformasi pengetahuan ke-Islaman  terputuslah suatu generasi Islam ke generasi berikutnya.

Sebagai konsekwensi misi Islam yang diperuntukkan bagi semua bangsa untuk sepanjang masa adalah kesungguhan umat Islam untuk menyebarkan Islam seluas-luasnya tanpa mengenal batas geografis dan etnis dalam semua perjalanan waktu. Setiap masa memiliki karakteristiknya sendiri dan saat ini transformasi pengetahuan ke-Islaman berada pada masa dengan karakteristik yang luar biasa kecepatan perubahannya. Dari tradisional ke moderen dan selanjutnya ke post-moderen. Dari perubahan yang bersifat lokal nasional menjadi multinasional dan selanjutnya ke era global.

Pesan pendidikan dan pengajaran tetap sama yaitu  Al Qur’an dan hadits. Akan tetapi peserta didiknya berbeda, terutama pada era global seperti sekarang ini.  Pada era ini, masyarakat yang merupakan stakeholders berbagai lembaga pendidikan memiliki pola pikir, interaksi sosial dan produk budaya dalam  bidang sains dan teknologi yang amat jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Karena itu mereka memiliki sejumlah tuntutan terhadap kualitas pendidikan yang sesuai dengan harapan mereka. Keadaan masyarakat yang demikian merupakan peluang besar sekaligus tantangan berat bagi pendidikan Islam. Oleh sebab itu meneropong  tantangan sekaligus peluang untuk pengembangan pendidikan Islam di era global perlu dilakukan.

B.    Interaksi Masyarakat Global

Revolusi teknologi media informasi dan tranportasi telah merubah dunia yang demikian luas menjadi hanya sebesar sebuah desa.  Apa yang diprediksi oleh Marshal McLuhan tentang “Desa Buana”(Global Village) telah dirasakan sekarang. Peristiwa yang terjadi jauh di sebuah benua lain dalam hitungan detik dapat diketahui di benua lainya., bahkan kadangkala lebih cepat daripada informasi tentang peristiwa yang terjadi di desa sebelah.  Ahmed and Donnan (1994:1) mengatakan, …by globalization we principally refer to the rapid developments in communications technology, transport and information which bring the remotest parts of the world within easy reach.

Dalam bidang ekonomi, sekalipun perdagangan global ditentang oleh sejumlah negara berkembang namun tidak ada satupun  kekuatan yang mampu melawan dan menghentikannya. Philip McMichael menggambarkan pasar ekonomi global sebagai berikut:

The global marketplace is everywhere. The Japanese eat poultry fattened in Thailand with American corn, using chopsticks made with wood from Indonesian or Chilean forests. Canadians eat strawberries grown in Mexico with American fertilizer. Consumers on both sides of the Atlantic wear clothes assembled in Saipan with Chinese labor, drink orange juice from concentrate made with Brazilian oranges, and decorate their homes with flowers from Colombia. The British and French eat green beans from Kenya, and cocoa from Ghana finds its way into Swiss chocolate. Consumers everywhere are surrounded by word products…when you eat, wear, or use a final product chain, you participate in a global social process.

Globalisasi merupakan suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global (Faqih,2001:211) Ia juga  merupakan proses kebudayaan yang ditandai dengan adanya kecenderungan wilayah-wilayah di dunia, baik geografis maupun fisik, menjadi seragam dalam format sosial, budaya, ekonomi, dan politik (Nugroho, 2001 :3-4). Dalam kehidupan sosial, proses global telah menciptakan egalitarianisme, di bidang budaya memicu munculnya internationalization of culture, di bidang ekonomi menciptakan saling ketergantungan dalam proses produksi dan pemasaran, dan di bidang politik menciptakan liberalisasi. Jika ditinjau dari sejarah perkembangan ekonomi, globalisasi pada dasarnya merupakan  salah satu fase perjalanan panjang perkembangan kapitalisme liberal yang secara teoritis sebenarnya telah dikembangkan oleh Adam Smith. Meskipun globalisasi dikampanyekan sebagai era masa depan, yakni suatu era yang menjanjikan ‘pertumbuhan’ ekonomi secara global dan akan mendatangkan kemakmuran global bagi semua, globalisasi sesungguhnya adalah kelanjutan dari kolonialisme dan developmentalisme sebelumnya.

Ketika neo-liberalisme dijadikan kebijakan oleh negara-negara maju dengan mencanangkan perdagangan bebas, para pelaku usaha melakukan kompetisi yang ketat untuk meraih kapital yang lebih banyak. Kompetisi itu melibatkan kecepatan waktu dan ruang dengan sarana teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Untuk menguasai pasar dunia, kapitalis multinasional memainkan informasi secara global dengan membentuk budaya yang tersetting sesuai dengan produk mereka.(Ahmed,1994 :3) Bagi kapitalis, hukum Say dari Jean Baptist Say, penawaran menciptakan pemintaannya sendiri (supply creates its own demand) dapat dirujuk untuk memainkan konsumen. Budaya konsumeris adalah hasil ciptaan kapitalis dan telah menjadi budaya global.

Budaya global memaksa individu tanpa sadar untuk mengikuti pola yang ditawarkan oleh penguasa informasi. Budaya global secara perlahan mencerabut budaya lokal dan nasional, sehingga jatidiri bangsa dapat tergeser dengan sendirinya. Hal yang terjadi dalam globalisasi adalah homogenitas budaya. Upacara adat, musik tradisional, kesenian lokal, atau makanan khas daerah semakin tidak diminati oleh sebagian besar masyarakat. Penanaman nilai-nilai budaya oleh orang tua sulit diterima oleh generasi berikutnya yang lebih memilih pola hidup yang ditawarkan media massa. Globalisasi mampu mengubah pandangan hidup masyarakat, bahkan ideologi sekalipun. Runtuhnya ideologi komunisme tidak terlepas dari globalisasi yang dimainkan oleh kaum kapitalis. Demikian pula ideologi Pancasila dapat dimungkinkan hilang dari benak bangsa Indonesia jika tidak ditanamkan lebih kuat. Hal yang mengkhawatirkan adalah jika globalisasi menggeser nilai-nilai agama yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Dengan semakin meningkatnya peranan globalisasi, sehingga menimbulkan perubahan struktur perekonomian dunia –di samping pendekatan kawasan dalam pembangunan suatu negara- menyebabkan peranan swasta semakin bertambah besar (Esmara, 1994:38). Kekuasaan dunia tidak terletak pada kepala negara, melainkan pengusaha kapitalis multinasional yang memiliki sejumlah perusahaan di beberapa negara. Mereka memiliki kemampuan memaksa suatu negara untuk mengikuti kebijakan yang ditetapkannya. Jika suatu negara menolak kehendak mereka, dengan tanpa pasukan militer mereka mampu menggoyang makro perekonomian negara. Konflik antara Mahathir Muhammad dan pengusaha spekulan, George Soros, adalah contoh ketidakmampuan pemerintah suatu negara atas keperkasaan pengusaha. Meskipun demikian, para pengusaha tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan negara-negara maju yang memberikan fasilitas untuk ekspansi pasar di negara-negara yang sedang berkembang. Jadi, globalisasi merupakan hegemoni dan kolonialisasi oleh kelompok kapitalis, baik dari pengusaha maupun rezim pemerintah, atas negara-negara yang sedang berkembang.

Dalam konteks ekonomi dan politik, implikasi globalisasi membuat masyarakat dunia semakin saling terhubungkan (interconnected) (Effendy,1997:44).  Hampir tidak ada masyarakat dunia yang secara ekonomi dan politik teralienasikan. Tidak akan ada negara yang dapat survive jika ia menutup diri dari negara-negara lain khususnya negara maju. Sekarang ini batas teritorial suatu negara menjadi tidak penting yang oleh Kenichi Ohmae (1995) dibahasakan dengan the end of nation state (akhir dari negara-bangsa). Dalam globalisasi justru negara-negara yang memiliki kerja sama dan menjadi sekutu bagi negara-negara maju akan mendapat limpahan kekuasaan dan kekuatan.

Dalam globalisasi telah terumuskan aturan dan etika internasional yang mengikat semua masyarakat dunia. Pengabaian terhadap etika global akan berdampak serius pada pembangunan suatu negara. Negara yang terdaftar sebagai negara terkorup oleh media internasional akan berimplikasi pada ketidakpercayaan investor dan negara asing untuk menjalin kerja sama dengan negara tersebut. Dengan hilangnya kepercayaan itu, sulit bagi suatu negara untuk melakukan perdagangan internasional. Persoalan etika global yang menjadi wacana publik juga ikut mempengaruhi kebijakan suatu negara, seperti hak asasi manusia, emansipasi wanita, demokratisasi, kebebasan pers, dan sebagainya.

Media memiliki peranan yang penting dalam memunculkan isu global. Segala sesuatu yang diangkat sebagai isu global, maka setiap individu memiliki hak untuk terlibat mendialogkannya. Dalam globalisasi tidak ada hal yang privat jika telah dicuatkan media. Sesuai dengan karakteristik media, isu-isu global akan mudah lenyap dilupakan publik dengan cepat dan digantikan dengan isu yang lain. Dengan menggunakan teknologi komunikasi yang semakin canggih, segala informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh siapapun tanpa ada filter dan sensor.

Paling tidak ada 3-f (food, fun and fashion) yang mengalami perubahan dahsyat di semua negara termasuk di negara miskin. Jenis dan gaya makan, hiburan dan mode pakaian yang terkini diikuti oleh anak-anak muda di berbagai benua.  Karena mode selalu berubah maka ia  cenderung mengundang pemborosan, pemenuhan prestise dan mengesampingkan standar moral keagamaan. Termasuk yang memprihatinkan dalam hal ini adalah terjadinya krisis identitas. Pakaian adalah bagian dari identitas suatu komunitas. Lewis (1995:3) mengatakan :

 It’s possible that he may be wearing traditional dress but this is becoming less and less frequent in the cities. Most probably he will be dressed Westren- style, with shirt and slacks or nowadays a T-shirt and jeans. Clothes of course have a tremendous importance…as a way of one’s identity, as an affirmation of one’s origin and a recognition signal to others who share them…In Jewish and in Muslim writings, the believers are urged not to dress like the unbelievers but to maintain their own distinctive garb.

Pendidikan Islam dituntut menanamkan nilai agama yang berfungsi sebagai filter dari budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam juga sebagai pengendali dari berbagai kecenderungan kehidupan konsumtif. Islam has played a prominent role in globalization processes since it’s very origin. This role is not accidental to Islam, but was instead one of its fundamental attributes. It affected political, economic and cultural life (Meuleman,2001:14). Selama ini pendidikan Islam yang tiada henti membangun moral peserta didik harus berlomba dengan berbagai ideologi dan budaya destruktif yang jauh lebih kuat. Siapa yang kalah dalam lomba ini? Jawabannya sudah jelas: pendidikan Islam. Pada umumnya lembaga pengelola pendidikan Islam memiliki berbagai keterbatasan dana, media dan SDM yang berkualitas.

C. Pendidikan dan Potret SDM Kita

Tidak satupun yang membantah bahwa SDM kita masih kurang siap untuk menghadapi modernisasi tersebut. Keterpurukan ekonomi umat Islam semakin menjadikan kita semakin berat menghadapi kecepatan moderenisasi global. Menurut United Nation Development Program Indeks kualitas SDM Indonesia hanya 0,641 atau menempati urutan ke 102 dari 174 negara-negara di dunia.

Center For Information and Development Studies menambahkan bahwa untuk menghadapi pasar bebas abad 21, Indonesia paling tidak siap di Asia karena lemahnya daya saing dan SDM. Antara lain ditandai pada prestasi belajar matematika siswa SLTP sampai PT yang meraih di bawah 07. Sebagai perbandingan, siswa di Cina rata-rata nilai matematikanya 07-09.

Hasil penelitian IEA sebuah asosiasi internasional yang secara berkala meriset pencapaian bidang pendidikan mengemukakan bahwa dari 33 negara, siswa SD kita berada di urutan kedua terbawah di atas Venezuela. Siswa kita memperoleh skor yang lumayan pada tes multiple choise dan terpuruk pada tes mengisi (fill-in) padahal yang kedua inilah yang lebih menggambarkan kemampuan yang sesungguhnya.

Kalau kita cermati bahwa rate acara televisi yang selalu tinggi adalah acara-acara hiburan, maka kita bisa memahami hasil penelitian PMGM (Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca) bahwa setiap tahun buku yang beredar di Indonesia hanya 1,2 juta exp. (bukan jumlah judul). Bandingkan dengan kaset (legal) di Indonesia beredar lebih tinggi yaitu 90 juta buah. Vietnam dengan penduduk di bawah 100 juta orang memproduksi lebih banyak judul buku di banding Indonesia  yang berpenduduk hampir tiga kali lipat dari  Vietnam.

Dengan potret SDM di atas, kita menjadi sadar betapa ketertinggalan kita dalam perkembangan sains dan teknologi. Para pendidik dituntut mengejar ketertinggalan tersebut dan berupaya menumbuhkan semangat peserta didik untuk lebih giat menggali ilmu pengetahuan. Pendidik dan peserta didik dituntut untuk bersama-sama melakukannya. Jika pendidik tidak lebih cepat mengejar ketertinggalannya, maka apa yang terjadi di Malaysia ± 15 tahun yang lalu bisa dirasakan oleh pendidik. Dr. Michael Toyad (Deputi Menteri Pendidikan Malaysia) mengatakan 0,09% dari 170.000 guru di Malaysia menglami gangguan jiwa. Penyebabnya antara lain era informasi mengantarkan peserta didik ke tingkat pengetahuan yang seringkali lebih cepat dari guru, sehingga tidak sedikit pertanyaan peserta didik yang sulit dijawab oleh guru. Apa yang disampaikan oleh guru di depan kelas dipandang basi oleh siswa.

Di samping itu, pola hafalan yang mendominasi sistem pembelajaran kita perlu ditinjau kembali. YB. Mangunwijaya mengatakan, sistem pendidikan yang selama ini menekankan hafalan ternyata telah mereduksi bangsa Indonesia menjadi pelayan yang siap pakai dalam arti siap disuruh. Oleh sebab itu pendidikan ke depan harus dapat membentuk manusia ekspoitator, kreatif dan manusia integral.

Pola pendidikan perguruan tinggi kita juga mendapatkan kritik. Umar Kayam memandang perguruan tinggi kita tidak mendidik mahasiswa untuk menjadi manusia mandiri. Perguruan tinggi hanya mengajarkan teori-teori dan tidak mengajarkan bagaimana menguji relativitas kebenaran teori tersebut agar ia menjadi manusia kritis dan rasional.

Dalam perspektif global, SDM yang dihasilkan dari lembaga pendidikan Islam secara ideal tidak tepat jika hanya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional semata. Ketika batas antar negara nyaris terhapus, maka SDM berkualitas dari negara lain bisa memasuki suatu negara secara leluasa. Di sinilah persaingan produk pendidikan kita sangat dirasakan. Dalam keadaan demikian,  mereka tidak boleh hanya pasip dan survive tapi juga harus ekspansif untuk menembus pasar global melalui karya-karya unggulan.

Dalam skala nasional, jika SDM umat Islam tidak berkualitas dan gagal dalam persaingan dengan SDM agama lain ataupun ideologi lain, maka umat Islam tidak akan dapat menjadi pelaku pembangunan bangsa. Mereka hanya menjadi penonton yang berteriak-teriak di sudut lapangan, bersorak ataupun menggerutu tanpa bisa melakukan apapun.

Apa yang harus dilakukan sekarang? Tidak ada kata lain kecuali ”bangkit untuk pendidikan Islam”. Kebangkitan di bidang pendidikan harus dimulai dari kesadaran individual di bidang ini. Selanjutnya dibutuhkan kesadaran dan pengorbanan bersama untuk memberikan support yang maksimal untuk kemajuan lembaga pendidikan Islam yang ada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Mungkin anda mencari Artikel Lainnyaclose